Sabtu, 17 Desember 2011

IDDAH


Tugas Mandiri:
                           IDDAH

     UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH FIQIH 2
DI
S
U
S
U
N
OLEH:
MARDIANA
Dosen Pengampu:
Abd. Syahid S. pdi. M.A

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AULIAURRASYIDIN
TEMBILAHAN
2011




KATA PENGANTAR
Pertama – tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang dengan rahmat, taufik dan hidayahnya – Nya  sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “IDDAH” ini untuk memenuhi tugas mandiri.
Mungkin di dalam Makalah ini masih terdapat kekurangan dan kekhilafan, oleh karna itu saya mengharap kritik dan saran dari bapak agar makalah saya ini dapat lebih sempurna lagi dan benar.




                                                                       Penulis,

                                                                            MARDIANA









(I)



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................. I   
DAFTAR ISI................................................................................................ II
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. III
A.     Latar Belakng.....................................................................................
B.     Rumusan Masalah..............................................................................
BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 1
A.    Pengertian IDDAH........................................................................... 1
B.     Macam Macam IDDAH.................................................................... 1
C.     Hak Perempuan dalam IDDAH........................................................ 2
D.    Kedudukan Hukum dan Hikmah...................................................... 6
  BAB III KESIMPULAN........................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 8









(II)



BAB I
PENDAHULUAN

Dengan nama Allah Yang Maha pengasih lagi Maha penyanyang, yang telah mengutus Nabi Muhammad Saw. untuk menyampaikan agama yang hak, memberi petunjuk kepada segenap manusia kejalan kebaikan, untuk kehidupan di dunia dan keselamatan di akhirat.
A.   Latar belakang

Dengan adanya pelajaran atau buku fiqih  kita dapat mengetahui secara singkat  namun sangat mendasar dan memberi gambaran yang luas mengenai hukum fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, karna pelajaran ini di perkuat oleh dalil dalil Al- Qur’an hadis ijma dan qias.
Apalagi pada masa sekarang ini banyak ummat islam tidak mengetahui secara jelas tentang hukum hukum tentang muamalat, maka dari itu dengan adanya pelajaran ini kita meraih kebahagian dunia dan akhirat karna ilmu fiqih melebihi segala ilmu,  sebagaimana Rasulullah Saw. Bersabda” Barang siapa dikehendaki suatu kebaikan oleh Allah Swt., Maka ia di beri pemahaman dalam masalah agama (ahli figih).

B.   Rumusan Masalah
1.     Apa pengertian Iddah dan  macam macam iddah.?
2.     Bagaimana hukum iddah dan Apa hikmahnya.?
3.     Apa saja hak bagi perempuan yang dalam masa Iddah itu.?
(III)


BAB II
A.    PENGERTIAN IDDAH
Iddah  ialah  masa menanti yang di wajibkan atas perempuan  yang di ceraikan suaminya (cerai hidup atau cerai mati ) gunanya supayah di ketahui Rahimnya nya berisi atau tidak.

Dalam istilah agama, iddah mengandung arti  lamanya istri menunggu dan tidak boleh menikah setelah kematian suaminya atau setelah bercerai dengan istrinya, Iddah juga sudah di kenal masa jahiliyah. mereka tidak perna meninggalkan kebiasaan iddah.  kemudian islam datang kebiasaan itu di akui dan di jalankan terus karna ada beberapa kebaikan padanya.

B.   MACAM MACAM IDDAH

1.      Iddah Talak
Iddah talak artinya iddah yang terjadi karna perceraian perempuan perempuan yang berada dalam iddah talak  antara lain sebagai berikut.
a.       perempuan yang telah di campuri dan ia belum putus dalam haid.

b.       perempuan yang di campuri, dan tidak haid baik perempuan tua yang tidak haid maupun yang belum balig.[1]
(1)

2.     Iddah  hamil
Iddah yang terjadi apabila perempuan perempuan yang di ceraikan itu sedang hamil. Iddah mereka adalah sampai melahirkan anak.
Sebagaimana Firman Allah SWT:
“ Dan perempuan perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai  mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwah kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.
3.     Iddah wafat

Iddah wafat yaitu iddah terjadi apabila seorang perempuan di tinggal mati suaminya. Dan iddah nya selama empat bulan sepuluh hari.
Menurut jumhur salaf, iddah nya habis setelah anaknya lahir, walaupun belum cukup 4 bulan 10 hari,namun ada juga pendapat lain j yang mengatakan iddah nya harus mengambil waktu yang panjang Artinya walaupun anaknya belum lahir dan iddahnya sudah sampai  4 bulan 10 hari maka harus menunggu anak itu lahir begitu juga sebaliknya.
4.     Iddah Wanita yang kehilagan suaminya
Bila ada seorang perempuan yang kehilangan suaminya dan tidak di ketahui keberadaannya, apakah ia telah mati atau msih hidup, maka wajib atau ia harus menunggu selama 4 tahun lamanya. kemudian hendaklah ia beriddah selama 4 bulan 10 hari.[2]
(2)



“ Dari umar r.a “ Bagi perempuan yang kehilangan suaminya dan ia tidak mengetahui di mana dia berada, sesungguhnya perempuan itu wajib menunggu empat tahun, kemudian hendaklah ia beriddah empat bulan sepuluh hari, barulah ia boleh menikah.”
 (H.R .Malik )

Berdasarkan kisah tersebut, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa, menurut fatwa Umar bin Khathab, perempuan perempuan yang kehilangan suami harus menunggu selama empat tahun, dan beriddah empat bulan sepuluh hari, terhitung dari ia mengajukan pengaduan kepada hakim.

5.      Iddah perempuan yang di – illa’

Jumhur fugaha mengatakan bahwa istri yang di illa’ adalah istri yang di cerai juga. oleh karna itu, ia harus di iddah seperti perempuan yang di cerai. Dan Zabir bin Zaid berpendapat bahwa ia tidak wajib iddah, jika ia telah mengalami haid  tiga kali selam empat bulan. dan pendapt ini di jadikan pegangan oleh segolongan fuqaha dan di riwayatkan pula oleh ibnu abbas r.a. dengan alasan bahwa di adakanya iddah adalah untuk mengetahiu kosongnya rahim, sedang kekosongan ini sudah dapat di ketahui dari masa tersebut



(3)

C.   Hak perempuan dalam iddah

1.     Perempuan yang taat dalam iddah raj’iyah berhak menerima tempat tinggal atau rumah, pakaian dan keperluan hidupnya, dari yang menalaknya (bekas suaminya); kecuali istri yang durhaka, tidak berhak menerima apa apa.

Sabda Rasulullah Saw:

“ Dari Fatimah binti Qais, “ Rasulullah Saw bersabda, kepadanya, perempuan yang berhak menerima nafkah dan rumah kediaman bekas suaminya, itu apabila ruju’ kembali kepadanya.”
( riwayat Ahmad dan nasai )


2.     Perempuan yang dalam iddah bain, kalau ia mengandung,  ia berhak juga atas kediaman, nafkah, dan pakaian.

firman Allah yang berbunyi”

         “  Dan jika mereka ( istri istri  yang sudah di talak ) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga bersalin.”        
                 ( S. At- talaq : 6 )
(4)



3.     Perempuan dalam iddah bain yang tidak hamil.

Baik bain dengan talak tebus maupun talak tiga, hanya berhak mendapat tempat tinggal, tidak lainya.

Firman Allah SWT:

“ Tempatkanlah mereka ( para istri )  dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuan mu.”
( At-talak: 6 )

4.      Perempuan dalam iddah wafat.

 Mereka tidak mempunyai hak sama sekali meskipun ia mengandung, karna ia dan anak yang berada dalam kandungannya telah mendapat pusaka dari suaminya yang meninggal dunia itu.

Seperti Sabda Rasulillah Saw:

“ Janda hamil yang kematian suaminya tidak berhak mendapat nafkah.”( Riwayat Daruqutni)[4]



(5)




D.Kedudukan Hukum Dan Hikmah Iddah

Seperti telah di jelaskan di atas bahwa perempuan yang berada dalam masa iddah, apabila iddahnya adalah iddah talak raj’i  maka suaminya berhak merujuknya kembali. akan tetapi apabila ia hendak menikah dengan laki laki lain, maka ia harus menunggu sampai masa iddah nya habis.

Sedangkan dalam talak ba’in, Suami tidak berhak merujuknya kembali kecuali dengan akad Nikah baru apabila telah habis masa iddahnya.

Adapun Hikmah adanya Iddah adalah sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui bersihnya Rahim seorang perempuan, sehingga tidak tercampur antara keturunan satu dengan yang lain.

2.     member kesempatan kepada suami istri yang terpisah untuk kembali kepada kehidupan semula, jika hal itu baik.


3.     masa penyelesaian segala masalah bila masih ada masalah dan akan tetap terpisah.

4.      masa peralihan untuk menentukan hidup.

5.     sebagai waktu berkabung bila suaminya meningga.
6.     sebagai hukum ta’ abudy.[5]

(6)


BAB III

KESIMPULAN

Iddah ialah satu masa  dimana perempuan yang telah di ceraikan, baik cerai hidup maupun cerai mati, harus menunggu untuk meyakinkan apakah rahimnya kosong atau berisi kandungan.
·        Macam Macam Iddah

1.     Iddah Talak.
2.     Iddah Hamil.
3.     Iddah Wafat.
4.     Iddah Wanita yang kehilangan suaminya.
5.     Iddah perempuan yang Di-Ila’.
·        Hak perempuan dalam iddah
a.     Perempuan yang taat dalam iddah raj’iyah.
b.     perempuan dalam iddah bain yang mengandung.
c.      perempuang yang dalam iddah bain.
d.     perempuan yang iddah wafat
·        Hikmah Iddah
1.     Iddah adalah masa berfikir untuk kembali.
2.     waktu iddah  usaha rujuk kembali dari kedua belah pihak
3.     masa penyelesain segala masalah.
4.     masa peralihan untuk menentukan hidup baru.
5.     sebagai waktu berkabung apabila suami meninggal.
6.     masa menentukan kosongnya rahim.
7.     sebagai hukum ta’abudy.


(7)




DAFTAR PUSTAKA

 Abidin dan Dkk.1999. FIQIH MUNAKAHAT. Bandung. Pustaka Setia.
Sulaiman. 1984 FIQIH ISLAM. Bandung: Sinar Baru Algensindo.





(8)


[1] Slamet abidin dan aminudin, fiqih munakahat ( Bandung: pustaka setia, 1999 ), hlm 122
[2] Ibid, hlm 133
[3]  Sulaiman Rasjid, FIGIH ISLAM, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1994, hlm 416

[4]  Ibid, hlm 416
Op.cit, hlm.138

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar